Subtitle
Terjemahan
I felt as if someone was pressing burning coals against my lower back. The pain was sharp and unrelenting. My legs tingled, my knees throbbed, and my feet went numb. But my back… it was unbearable. A wave of fear rose in me, and I wanted to jump up and escape. But I remembered what the meditation teacher had said: “Don’t run from pain—observe it.” I forced myself to stay still. I focused my mind on the fiery spots in my back, studying them carefully. What is pain? Where does it start? How deep does it go? Then something incredible happened. The fear melted away, and my breathing slowed naturally. I felt an unexpected calm spread through my body. Suddenly, the pain wasn’t “pain” anymore—it was just a strong vibration. I no longer wanted to escape. This happened on the ninth day of a silent meditation retreat using the method of Master Arjun. His retreat lasts ten days, starting at 4 AM and ending at 9 PM, with no talking at all. The training focuses on direct experience, not theories. Surprisingly, the course is free, and donations are optional. When I completed the course, I felt peaceful and focused like never before. Sadly, over time I stopped practicing daily meditation, and my mind has become restless again. Now I’m thinking seriously about joining another retreat. Luckily, there are centers around the world, so finding one won’t be difficult.
Saya merasa seolah-olah seseorang menekan bara api membara ke punggung bawah saya. Rasa sakitnya tajam dan tak henti-hentinya. Kaki saya kesemutan, lutut saya berdenyut, dan kaki saya mati rasa. Tapi punggung saya... itu tak tertahankan. Gelombang ketakutan muncul dalam diri saya, dan saya ingin melompat dan melarikan diri. Tetapi saya ingat apa yang dikatakan guru meditasi: “Jangan lari dari rasa sakit—amati itu.” Saya memaksa diri untuk tetap diam. Saya memfokuskan pikiran saya pada titik-titik berapi di punggung saya, mempelajarinya dengan cermat. Apa itu rasa sakit? Dari mana asalnya? Seberapa dalam itu masuk? Kemudian sesuatu yang luar biasa terjadi. Ketakutan itu mencair, dan napas saya melambat secara alami. Saya merasakan ketenangan tak terduga menyebar ke seluruh tubuh saya. Tiba-tiba, rasa sakit itu bukan lagi “sakit”—itu hanya getaran yang kuat. Saya tidak lagi ingin melarikan diri. Ini terjadi pada hari kesembilan retret meditasi diam menggunakan metode Master Arjun. Retretnya berlangsung sepuluh hari, dimulai pukul 4 pagi dan berakhir pukul 9 malam, tanpa berbicara sama sekali. Pelatihan berfokus pada pengalaman langsung, bukan teori. Anehnya, kursus ini gratis, dan donasi bersifat opsional. Ketika saya menyelesaikan kursus, saya merasa damai dan fokus tidak seperti sebelumnya. Sayangnya, seiring waktu saya berhenti berlatih meditasi setiap hari, dan pikiran saya menjadi gelisah lagi. Sekarang saya berpikir serius untuk bergabung dengan retret lain. Untungnya, ada pusat di seluruh dunia, jadi menemukan satu tidak akan sulit.