Subtitle
Terjemahan
Ethan always believed, “You can’t use what you don’t have. If you’re shy, be shy. If you’re bold, be bold.” He told his friend Lucas, “A woman may not want every single detail, but she does want to meet the real you.” That night, Lucas was worried about what to say, how he looked, and if she liked him. Ethan reminded him, “She already said yes to this date when she could have said no. So it’s not your job to make her like you—it’s your job not to ruin it.” “Relax,” Ethan added. “Listen to her words, respond naturally, and don’t overthink. Ask her about the art show: what picture she liked, and why. Focus on her answers, not her lips.” As they walked under the clear evening sky, Ethan said, “Three dates. That’s all I need to get you to the moment where real feelings start.” Because in love, the best moments happen in an instant—the ones that take your breath away.
Ethan selalu percaya, "Kamu tidak bisa menggunakan apa yang tidak kamu miliki. Jika kamu pemalu, jadilah pemalu. Jika kamu berani, jadilah berani." Dia berkata kepada temannya, Lucas, "Seorang wanita mungkin tidak menginginkan setiap detail, tetapi dia ingin bertemu dengan dirimu yang sebenarnya." Malam itu, Lucas khawatir tentang apa yang harus dikatakan, bagaimana penampilannya, dan apakah dia menyukainya. Ethan mengingatkannya, "Dia sudah mengatakan ya untuk kencan ini ketika dia bisa saja mengatakan tidak. Jadi bukan tugasmu untuk membuatnya menyukaimu—tugasmu adalah untuk tidak merusaknya." "Santai saja," tambah Ethan. "Dengarkan kata-katanya, tanggapi secara alami, dan jangan terlalu banyak berpikir. Tanyakan padanya tentang pameran seni: gambar mana yang dia sukai, dan mengapa. Fokus pada jawabannya, bukan bibirnya." Saat mereka berjalan di bawah langit malam yang cerah, Ethan berkata, "Tiga kencan. Hanya itu yang aku butuhkan untuk membawamu ke momen di mana perasaan yang sebenarnya dimulai." Karena dalam cinta, momen-momen terbaik terjadi dalam sekejap—momen-momen yang membuatmu terengah-engah.