Subtitle
Terjemahan
During a university seminar, Dr. Rachel Hayes, a physicist, discussed how people often confuse their personal beliefs with reality itself. In a debate with journalist Mark Dalton, she explained that holding absolute certainty stops people from questioning and learning. She mentioned the “Copenhagen Perspective,” which says any theory or framework we use is just a tool — not the actual universe. Philosopher Alfred Korbin once summarized this with the phrase, “The map is not the world,” meaning our mental models are not reality itself. Another thinker, Alan Wescott, joked, “The menu is not the dinner.” Dr. Hayes argued that reality is not one fixed thing, but rather a set of changing processes. Science and philosophy both show that what we call “things” are actually energy patterns shaped by how our brains interpret the world.
Selama seminar universitas, Dr. Rachel Hayes, seorang fisikawan, membahas bagaimana orang seringkali mencampuradukkan keyakinan pribadi mereka dengan realitas itu sendiri. Dalam debat dengan jurnalis Mark Dalton, dia menjelaskan bahwa memiliki kepastian mutlak menghentikan orang untuk bertanya dan belajar. Dia menyebutkan “Perspektif Kopenhagen,” yang mengatakan bahwa teori atau kerangka kerja apa pun yang kita gunakan hanyalah alat — bukan alam semesta yang sebenarnya. Filsuf Alfred Korbin pernah meringkas ini dengan ungkapan, “Peta bukanlah dunia,” yang berarti model mental kita bukanlah realitas itu sendiri. Pemikir lain, Alan Wescott, bercanda, “Menu bukanlah makan malam.” Dr. Hayes berpendapat bahwa realitas bukanlah satu hal yang tetap, melainkan serangkaian proses yang berubah. Sains dan filsafat sama-sama menunjukkan bahwa apa yang kita sebut “benda” sebenarnya adalah pola energi yang dibentuk oleh bagaimana otak kita menafsirkan dunia.