Subtitle
Terjemahan
Henry David Thoreau once argued that law does not necessarily make people just. In fact, blind respect for law can turn decent individuals into tools of injustice. Soldiers, for example, may march to war even though they hate violence and know it is wrong. They obey orders like machines, abandoning their own moral sense. Throughout history, many terrible crimes were committed not only by leaders, but also by ordinary people who chose to follow orders rather than their conscience. True courage, Thoreau said, comes from resisting unjust laws. Those who disobey in the name of justice—like Martin Luther King, Gandhi, and others—are remembered as heroes. Even though society often condemns such people while they are alive, history later honors them. Thoreau, Gandhi, and King all believed that individuals must follow what is right and true rather than simply obeying authority. Their message is clear: real justice begins with personal conscience.
Henry David Thoreau pernah berpendapat bahwa hukum tidak serta merta membuat orang menjadi adil. Bahkan, rasa hormat buta terhadap hukum dapat mengubah individu yang baik menjadi alat ketidakadilan. Tentara, misalnya, dapat berbaris ke medan perang meskipun mereka membenci kekerasan dan tahu itu salah. Mereka mematuhi perintah seperti mesin, meninggalkan akal moral mereka sendiri. Sepanjang sejarah, banyak kejahatan mengerikan dilakukan tidak hanya oleh para pemimpin, tetapi juga oleh orang-orang biasa yang memilih untuk mengikuti perintah daripada hati nurani mereka. Keberanian sejati, kata Thoreau, datang dari melawan hukum yang tidak adil. Mereka yang tidak taat atas nama keadilan—seperti Martin Luther King, Gandhi, dan lainnya—dikenang sebagai pahlawan. Meskipun masyarakat sering mengutuk orang-orang seperti itu saat mereka masih hidup, sejarah kemudian menghormati mereka. Thoreau, Gandhi, dan King semua percaya bahwa individu harus mengikuti apa yang benar dan jujur daripada hanya mematuhi otoritas. Pesan mereka jelas: keadilan sejati dimulai dengan hati nurani pribadi.