Subtitle
Terjemahan
There I was, sitting in a gray cubicle, staring at the glowing clock on the wall. Every second crawled by like a snail. My hands rested on the keyboard, my eyes on the blank screen. If anyone walked past, they would think I was working hard. In reality, I was doing nothing—just pretending. Day after day, it was the same empty routine. It was the worst job I had ever taken—working for a giant corporation. I kept wondering: Is it possible to earn a living doing something honest, inspiring, and free? Does work always have to feel soul-crushing? Last week, I watched a movie called The Cubicle Life. It was hilarious—and painfully true. It reminded me of my own job: sterile offices, fake smiles, and endless boredom. Over time, I realized most jobs destroy people's energy. They turn bright, creative humans into lifeless robots. I hated my job. I hated the dull walls, the strict rules, and the feeling of being controlled. So I started searching for something better, something meaningful. I found joy in tutoring students. I loved seeing their excitement and progress. But even then, I had to follow orders, use terrible books, and teach the way others wanted. Finally, I understood: to live with freedom, you must work for yourself. That’s why I started my own program. It was scary—no boss, no paycheck guarantee, no safety net. But I had to follow my heart. Fear was always there, whispering about failure. Yet I learned something powerful: if your dream both terrifies and excites you, it's probably worth it. So my advice is simple: embrace the fear. Don’t wait for it to go away. Take action while scared. Because action is the cure for fear.
Di sana saya duduk di bilik abu-abu, menatap jam yang menyala di dinding. Setiap detik merayap seperti siput. Tangan saya bertumpu pada keyboard, mata saya tertuju pada layar kosong. Jika ada yang lewat, mereka akan mengira saya sedang bekerja keras. Kenyataannya, saya tidak melakukan apa-apa—hanya berpura-pura. Hari demi hari, itu adalah rutinitas kosong yang sama. Itu adalah pekerjaan terburuk yang pernah saya ambil—bekerja untuk perusahaan raksasa. Saya terus bertanya-tanya: Apakah mungkin mencari nafkah dengan melakukan sesuatu yang jujur, menginspirasi, dan bebas? Apakah pekerjaan harus selalu terasa menghancurkan jiwa? Minggu lalu, saya menonton film berjudul The Cubicle Life. Itu lucu—dan sangat benar. Itu mengingatkan saya pada pekerjaan saya sendiri: kantor yang steril, senyum palsu, dan kebosanan yang tak ada habisnya. Seiring waktu, saya menyadari sebagian besar pekerjaan menghancurkan energi orang. Mereka mengubah manusia yang cerdas dan kreatif menjadi robot tanpa kehidupan. Saya benci pekerjaan saya. Saya benci dinding yang kusam, aturan yang ketat, dan perasaan dikendalikan. Jadi saya mulai mencari sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang bermakna. Saya menemukan kegembiraan dalam membimbing siswa. Saya senang melihat kegembiraan dan kemajuan mereka. Tetapi bahkan saat itu, saya harus mengikuti perintah, menggunakan buku-buku yang buruk, dan mengajar sesuai keinginan orang lain. Akhirnya, saya mengerti: untuk hidup dengan kebebasan, Anda harus bekerja untuk diri sendiri. Itulah mengapa saya memulai program saya sendiri. Itu menakutkan—tidak ada bos, tidak ada jaminan gaji, tidak ada jaring pengaman. Tetapi saya harus mengikuti kata hati saya. Ketakutan selalu ada, berbisik tentang kegagalan. Namun saya belajar sesuatu yang kuat: jika impian Anda membuat Anda takut dan bersemangat, mungkin itu sepadan. Jadi saran saya sederhana: rangkul rasa takut. Jangan menunggu sampai hilang. Ambil tindakan saat takut. Karena tindakan adalah obat untuk rasa takut.