Subtitle
Terjemahan
Drums echoed through the field as banners whipped in the wind. I tightened my grip on my wooden axe and steadied my round shield. My heart raced, and I felt a wild energy rising in my chest. To my right, a tall warrior in crimson armor shouted, “Steel Wolves of Ironwood, stand firm!” He pointed his blade toward the approaching line of warriors dressed in blue and silver. Our group roared back, stomping shields on the ground in rhythm. As we charged, my nerves spiked. The clash of shields, the cries of warriors, and the pounding footsteps made it feel terrifyingly real. But deep down, I knew no blood would be spilled. This was a grand game—our reenactment at the Ironwood Festival, where people from across the country come together to relive the age of knights and warriors. I later learned this group, called the Brotherhood of Ironwood, was more than just a weekend hobby. They built armor, forged weapons, crafted costumes, and even created music and dances. They lived history—not in books, but with their own hands and hearts. For me, joining them was not just about pretending to be a warrior. It was about friendship, freedom, and the pure joy of playing like a child again. Play is not an escape—it’s a way to stay alive inside.
Gendang bergema di seluruh lapangan saat spanduk berkibar tertiup angin. Aku mempererat cengkeramanku pada kapak kayuku dan menstabilkan perisai bundarku. Jantungku berdebar kencang, dan aku merasakan energi liar naik di dadaku. Di sebelah kananku, seorang prajurit tinggi berbaju zirah merah berteriak, "Serigala Baja Ironwood, berdiri teguh!" Dia mengarahkan pedangnya ke arah barisan prajurit yang mengenakan pakaian biru dan perak. Kelompok kami meraung kembali, menghentakkan perisai ke tanah secara berirama. Saat kami menyerbu, sarafku menegang. Bentrokan perisai, teriakan prajurit, dan derap langkah kaki membuatnya terasa sangat nyata. Tapi jauh di lubuk hati, aku tahu tidak akan ada darah yang tumpah. Ini adalah permainan besar—reenactment kami di Festival Ironwood, tempat orang-orang dari seluruh negeri berkumpul untuk menghidupkan kembali zaman ksatria dan prajurit. Belakangan aku mengetahui bahwa kelompok ini, yang disebut Brotherhood of Ironwood, lebih dari sekadar hobi akhir pekan. Mereka membuat baju besi, menempa senjata, membuat kostum, dan bahkan menciptakan musik dan tarian. Mereka menghidupi sejarah—bukan di buku, tetapi dengan tangan dan hati mereka sendiri. Bagiku, bergabung dengan mereka bukan hanya tentang berpura-pura menjadi seorang prajurit. Ini tentang persahabatan, kebebasan, dan kegembiraan murni bermain seperti anak kecil lagi. Bermain bukanlah pelarian—itu adalah cara untuk tetap hidup di dalam.