Subtitle
Terjemahan
I arrive in Oaxaca, Mexico, on November 2nd, during Día de los Muertos. I’ve always heard about this special holiday, so I decide to visit the local cemetery to see it for myself.
The place feels alive and full of energy. Families gather around the graves of their loved ones. They sweep away dust, decorate with bright marigold flowers, and light candles. The air smells of fresh bread and sweet incense.
Children run around holding paper lanterns, while others fly colorful kites above the cemetery. Some families share food and music right next to the tombstones. Laughter and conversation fill the night.
Back in my hometown in Canada, cemeteries are always quiet and solemn. We never think about playing music or celebrating in a graveyard.
I realize I admire the Mexican tradition. They celebrate the memory of their ancestors, rather than hiding from the thought of death. It’s not only a day to honor the dead—it’s also a day to cherish life.
Saya tiba di Oaxaca, Meksiko, pada tanggal 2 November, selama Día de los Muertos. Saya selalu mendengar tentang hari libur khusus ini, jadi saya memutuskan untuk mengunjungi pemakaman setempat untuk melihatnya sendiri. Tempat itu terasa hidup dan penuh energi. Keluarga berkumpul di sekitar kuburan orang yang mereka cintai. Mereka menyapu debu, menghias dengan bunga marigold yang cerah, dan menyalakan lilin. Udara berbau roti segar dan dupa manis. Anak-anak berlarian memegang lentera kertas, sementara yang lain menerbangkan layang-layang berwarna-warni di atas pemakaman. Beberapa keluarga berbagi makanan dan musik tepat di sebelah batu nisan. Tawa dan percakapan memenuhi malam itu. Di kampung halaman saya di Kanada, pemakaman selalu sunyi dan khusyuk. Kami tidak pernah berpikir untuk bermain musik atau merayakan di kuburan. Saya menyadari saya mengagumi tradisi Meksiko. Mereka merayakan ingatan nenek moyang mereka, daripada bersembunyi dari pikiran tentang kematian. Ini bukan hanya hari untuk menghormati orang mati—ini juga hari untuk menghargai kehidupan.